Informasi Seputar POKJA


img 30 May 2023 || By: Admin

Memelihara Kearifan Komunitas Lokal melalui Pelatihan Pemetaan

Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) adalah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada isu pengelolaan sumber daya alam di Provinsi Kalimantan Timur. Saat ini, KBCF sedang mendampingi beberapa desa di empat kabupaten berbeda, salah satunya di Kutai Barat. Beberapa kegiatan yang dilakukan seperti fasilitasi usulan Perhutanan Sosial (PS), pelatihan pemetaan, penyusunan administrasi kelompok hingga pendampingan kelompok usaha PS.

Sejak 2021, KBCF aktif mendampingi Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) di Kutai Barat. Hal ini tidak lepas pada pendampingan kelompok adat. Diketahui, terdapat beberapa lembaga dan komunitas adat di kabupaten tersebut. Contohnya, Komunitas Adat Lonokng Kampung Muara Jawaq, Linggang Jelemuq, Dingin, Sembuan, Muara Bomboy dan Penarung. Sejumlah kelompok tersebut telah mendiami wilayah Kutai Barat dalam waktu yang cukup lama. Kelompok-kelompok ini berasal dari Suku Dayak Tunjung dan Benuaq yang jumlahnya mendominasi penduduk di Kutai Barat.

Keberadaan kelompok – kelompok adat tersebut ditunjukkan dengan sejarah peninggalan pendahulu mereka. Cerita dari tokoh adat secara turun temurun disampaikan ke anak cucu. Bukti keberadaan juga ditunjukkan dari bukti fisik seperti jejak telapak tangan yang ada di gua. Selain itu, ada juga tradisi, budaya dan bentuk kegiatan kearifan lokal lainnya. Akan tetapi, semua pengetahuan tersebut belum tertulis dan terdokumentasi dengan baik. Kelompok adat belum mempunyai dokumen yang memuat pengetahuan tentang komunitas adat tersebut. Hal ini berdampak lemahnya administrasi kelompok yang tidak dapat menunjukkan keberadaan mereka melalui dokumen tertulis.

Merespons hal di atas, KBCF berinisiatif mendampingi kelompok adat guna mendukung penyusunan dokumen Masyarakat Hukum Adat (MHA). Salah satu bagian dari dokumen tersebut adalah peta wilayah adat. Peta tersebut berfungsi menunjukkan lokasi benda-benda peninggalan hingga rekam jejak perpindahan kelompok dari satu tempat ke tempat yang lain. Penyusunan dokumen tersebut dilakukan secara partisipatif bersama tokoh adat.

Oleh karena itu, KBCF menggandeng Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kutai Barat, mengadakan Pelatihan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Kelompok Perhutanan Sosial dan Pemerintah Kampung. Kegiatan ini bertujuan agar kelompok masyarakat dapat memetakan wilayah adat mereka secara mandiri. Tidak hanya wilayah adat, melainkan kegiatan ini juga mendukung program pembangunan desa dalam hal tata ruang. Adapun kegiatan ini dilaksanakan di Balai Pertemuan Kampung Linggang Bigung, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat.

Kegiatan dibuka pada tanggal 19 Mei 2023 dan dilaksanakan selama lima hari. Kegiatan melibatkan Kecamatan Linggang Bigung, pemerintah kampung, AMAN, kelompok adat, Kelompok Perhutanan Sosial serta masyarakat kampung. Kegiatan diawali sambutan dari KBCF yang disampaikan oleh Manajer Peta dan Data, Achmad Albar. “Pelatihan ini merupakan pelatihan lanjutan dari pelatihan pemetaan sebelumnya. Kita melibatkan pemuda agar ilmu dan pengetahuan pemetaan ini bisa berkelanjutan. Harapannya, dari kegiatan pelatihan ini, semua informasi terkait bukti peninggalan sejarah yang diketahui tokoh adat, dapat didokumentasikan oleh pemuda dengan baik melalui peta,” ujarnya.

Ketua AMAN Kutai Barat, Rudi, menyetujui pernyataan tersebut. Dia mengatakan pemuda mempunyai peran vital terhadap keberlanjutan kelompok adat. “Kami mengapresiasi tim KBCF yang sampai hari ini secara aktif berkoordinasi dengan kami untuk melaksanakan kegiatan ini. Harapan kami, dengan adanya kerjasama dari berbagai pihak, kita dapat memetakan wilayah adat di Kutai Barat,” tambahnya. “Saya juga sepakat terkait partisipasi pemuda. Mereka harus dilibatkan agar budaya dan adat istiadat tetap ada. Bagaimanapun mereka juga punya daya adaptasi yang lebih kuat dengan teknologi, sehingga kami orangtua hanya dapat mentransfer pengetahuan kami ke mereka,” tutupnya.

Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Camat Linggang Bigung, Kristian. Ia menuturkan bahwa pelatihan SIG tersebut juga mendukung pembangunan desa dalam hal tata ruang. Ia menyampaikan, penetapan batas desa seharusnya dimulai dari kampung. “Pemetaan ini sangat penting karena bersinggungan dengan tata ruang desa. Pemetaan hutan adat atau bahkan wilayah adat, mempunyai kontribusi yang baik terhadap penataan ruang hidup dan sosial budaya di kampung,” imbuhnya. “Saya juga berterimakasih kepada teman-teman KBCF dan AMAN serta pihak lainnya yang mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Harapan besar saya ada anak-anak kita yang dapat mengelola peta sehingga kita mempunyai peta terkait batas kampung kita sendiri,” tutupnya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan aplikasi pemetaan. Peserta dikenalkan manfaat dari praktik pemetaan dan hal teknis lainnya. Setelah itu, narasumber memimpin forum untuk melakukan praktik. Dimulai dari proses mengunduh aplikasi, peserta juga dilatih bagaimana melakukan digitasi, layout hingga eksport file peta yang telah diolah. Hasilnya, sebanyak 15 peserta mampu mengolah peta melalui aplikasi Quantum Geographic Information System (QGIS).

“Kami dari kecamatan Linggang Bigung berterimakasih kepada teman-teman KBCF dan AMAN yang sudah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat ini. Besar harapan kita semua, melalui pelatihan ini, kita dapat memetakan area hutan adat, wilayah adat dan juga batas desa secara mandiri dan mempunyai dokumen lengkap terkait komunitas adat kita,” ujar Yosafat, Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Linggang Bigung, terkait pernyataannya dalam penutupan pelatihan GIS.