Informasi Seputar POKJA


img 01 Sep 2023 || By: Admin

Jelajah Hutan Adat Tiwei

Bagi masyarakat Desa Tiwei, hutan telah menjadi bagian dari kehidupan. Hutan merupakan entitas penting dan tak jarang menjadi penopang bagi kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, hutan tidak hanya sekadar kekayaan alam, tetapi juga bagaimana cara untuk hidup berdampingan dengan hutan. Mereka percaya hutan dan alam adalah titipan untuk generasi yang akan datang.

Sebagian masyarakat telah mengakses hutan. Ada yang berburu, memancing,  mencari tanaman obat dan lain sebagainya. Bagi mereka, apa yang mereka butuhkan semua telah tersedia di hutan. Namun belakangan, ditemukan peluang pembukaan lahan oleh pihak perusahaan. Hal ini menjadi ancaman bagi makhluk hidup dan ekosistem yang ada di hutan.

Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) sebagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada pengelolaan sumber daya alam, berupaya memfasilitasi permohonan usulan Perhutanan Sosial (PS) dengan skema Hutan Adat. Salah satu tujuan pengusulan ini agar masyarakat dapat mengelola sekaligus melindungi kawasan hutan.

Langkah awal permohonan usulan adalah mempersiapkan dokumen usulan, termasuk peta areal indikatif yang akan diusulkan. Untuk melengkapi dokumen tersebut, maka penting bagi kelompok melakukan pengambilan titik koordinat yang menunjukkan batas area Hutan Adat sekaligus identifikasi potensi di dalam lokasi tersebut.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, dimulai dari tanggal 20 hingga 21 Juli 2023. Turut hadir 25 orang peserta yang terdiri dari Lembaga Adat, pemerintah desa, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Telake dan tim KBCF. Sebelum melaksanakan kegiatan, tim berkumpul di rumah Eks Kepala Desa Tiwei, yang juga merupakan tokoh adat setempat. Di sana, tim menggali informasi terkait sejarah pembentukan kelompok MHA Tiwei, hingga beberapa mitos dan kepercayaan yang dianut. Misalnya, mitos yang dipercaya oleh masyarakat, yakni dilarang memindahkan pal batas desa, karena dapat mengusik ruh nenek moyang setempat.

Penggalian informasi ini, dilakukan sebagai bekal tim melakukan survei ke dalam hutan keesokan harinya. Sebelum masuk ke sana, lembaga adat juga melakukan beberapa ritual adat, yang diyakini dapat memberikan keselamatan untuk tim saat berkegiatan nantinya. Selain itu, tim survei yang berjumlah belasan orang, melakukan briefing sekaligus pelatihan penggunaan aplikasi Avenza Maps dan GPS untuk mengambil titik koordinat. Setelah itu, anggota menyepakati pembagian tim menjadi tiga lokasi, yakni tim utara, tengah, dan barat. Setelah pembagian tim, pemerintah desa menyiapkan semua logistik dan juga kendaraan untuk masuk ke hutan.

Hari pelaksanaan telah tiba. Tim telah bersiap untuk melakukan survei. Tak disangka, hujan deras datang mengguyur, menyebabkan perjalanan sedikit terhambat. Awalnya, tim dibawa menggunakan dua mobil yang telah disediakan pemerintah desa. Namun, hujan lebat membuat jalan menuju hutan hanya dapat diakses dengan satu mobil. Sehingga, mobil tersebut harus kembali untuk menjemput tim lainnya.

Seluruh tim telah tiba di dalam hutan. Sekitar pukul 10 pagi, mereka sampai di lokasi pertama, yakni batas paling utara desa yang merupakan areal bekas pertambangan. Tim berjalan menyusuri batas desa sambil memetakan area sekaligus mengidentifikasi potensi sumber daya alam. Sambil berjalan menyusuri hutan, tim menemukan sungai. Jalur ini sangat sulit dilalui karena dataran yang curam. Tim harus memanjat tebing yang sangat curam dan licin karena hujan.

Sore hari, tim tiba di area camp, tepatnya di persimpangan sungai. Tim memasang tenda, memasak dan memancing. Namun naas, di malam hari, hujan deras disertai angin kencang datang mengguyur secara berulang. Tenda yang sudah dibangun di tepi sungai terpaksa dibongkar untuk dipindah ke area yang lebih tinggi. Beberapa pohon juga tumbang akibat angin kencang. Hujan berhenti saat tengah malam dan tim dapat beristirahat.

Esok hari, tim kembali bersiap untuk meneruskan perjalanan menyusuri hutan. Setelah bersiap, tim dibagi menjadi tiga kelompok. Sepanjang jalan, jalur terbagi menjadi jalur sungai dan jalur darat. Masing-masing jalur memiliki tantangannya masing-masing. Di jalur hutan, tim harus merintis, sedangkan di jalur sungai, tim harus berkutat dengan areal yang licin serta curam. Kondisi topografi yang berbukit membuat tim semakin tertantang untuk melewatinya karena harus melalui areal menukik seperti tangga besar, berbatu, dan diikuti aliran sungai yang cukup deras.

Dalam perjalanan, tim menemukan beberapa pohon yang diberi tanda berupa cat berwarna merah. Diketahui daerah seberang sungai merupakan wilayah konsesi perusahaan. Sebagian areal tersebut juga termasuk wilayah yang akan diusulkan sebagai Hutan Adat. Sembari melakukan pemetaan, tim juga memasang beberapa spanduk berupa larangan berburu.

Survei berakhir sebelum malam tibaa. Tim sampai di titik akhir pertemuan sungai, sebagai tanda akhir dari batas Hutan Adat, sekaligus batas administrasi Desa Tiwei. Tiba di Kampung, tim beristirahat sejenak dan merencanakan pertemuan esok harinya untuk membahas rencana tidak lanjut. Saat survei, terdapat beberapa potensi seperti air terjun dan goa yang dapat menjadi daya tarik wisata Desa Tiwei serta vegetasi dan keanekaragaman hayati yang sangat beragam. Masih dijumpai satwa endemik seperti enggang dan owa, juga tumbuhan khas seperti ulin, meranti, dan lain sebagainya.

Sementara itu, peta hasil penjajakan rute dan area akan diolah tim KBCF dan diserahkan kepada pemerintah desa sebagai dokumen pendukung untuk usulan Hutan Adat. Terkait keseluruhan kegiatan ini, ketua tim survei, Alan, menyatakan terima kasih kepada tim KBCF. “Masyarakat desa sangat antusias, apalagi saat masuk dan menginap di hutan. Ada kerinduan besar masyarakat Desa Tiwei terhadap hutan. Karena budaya masuk hutan saat ini mulai hilang dan tergerus kemajuan teknologi”, ungkapnya.